Skip to content
Juni 16, 2011 / andriyunantoro

awardmails.biz

Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Waspadai Diagnosis TBC Yang Tidak Benar Pada Penderita Alergi

Case Preview
Sandiaz, seorang anak laki-laki berusia 4 tahun setiap malam dan pagi hari ketika bangun tidur sering mengalami batuk dan pilek yang tak kunjung hilang selama 3 bulan. Telah berbagai dokter dikunjungi baik dokter anak, dokter paru, maupun dokter THT. Berbagai obat antibiotika terbaik dan obat yang termahal pun sudah dikonsumsi,namun hasilnya tetap tidak menunjukkan perubahan. Bahkan hanya berdasarkan selembar hasil foto rontgen,seorang dokter dengan berani memvonisnya TBC. Akhirnya si anak harus minum obat TBC bahkan sampai 1 tahun tiada henti. Sayangnya, batuk si anak tak sembuh juga. Tetapi setelah dinasihati oleh seorang dokter untuk menghindari sementara beberapa makanan penyebab alergi, ternyata tidak dalam waktu lama keluhan tersebut membaik.

Background
Apakah TBC menurun karena dulu waktu kecil sang bapak juga menderita TBC? TBC tidak menurun, tetapi yang menurun adalah alergi. Berarti sangat mungkin anak bapak sekaligus mengalami overdiagnosis TBC. Mengapa? Karena, alergi dan TBC adalah sama-sama penyakit THE GREAT IMMITATOR.
Bila anak anda mengalami gangguan kulit, gatal-gatal, sakit kepala, hidung buntu, bersin-bersin, nyeri perut, diare, sulit BAB atau batuk lama, hiperaktif, gangguan tidur, gangguan emosi, keterlambatan bicara, kesulitan makan dan lain sebagainya, dalam benak anda pertama kali yang terpikir pasti penyebabnya adalah flek paru, TBC, vetsin, minuman dingin, makanan berminyak, makanan pedas, makanan kotor, masuk angin, panas dalam, debu atau udara dingin, atau berbagai penyebab lainnya. Mungkin orang tua tidak terpikir bahwa keluhan-keluhan tersebut semua karena reaksi alergi makanan. Karena alergi makanan mungkin termasuk penyakit “The Great Mimic Presentation” karena gejalanya mirip atau sering dikira penyebab lainnya.

Diagnosis pasti TB anak terhitung sulit karena penemuan Micobacterium TBC (M.TBC) sebagai penyebab TB pada anak tidak mudah. Sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis baik berupa underdiagnosis dan overdiagnosis dalam penegakkan diagnosis TB pada anak. Overdiagnosis atau diagnosis TB yang diberikan terlalu berlebihan padahal anak belum tentu mengalami infeksi TB. Konsekuensi yang harus dihadapi adalah pemberian multidrug (2 atau 3 jenis antibiotika) dalam jangka waktu 6 bulan. Pemberian obat anti TB pada anak yang tidak menderita TB selain mengakibatkan pengeluaran biaya yang tidak diperlukan, juga resiko efek samping pemberian obat tersebut seperti gangguan hati, persyarafan telinga, gangguan darah dan sebagainya. Di lingkungan puskesmas (khususnya daerah pedesaan),hal itu juga mengakibatkan berkurangnya persediaan obat untuk penderita TB yang benar-benar memerlukannya.

Di kalangan masyarakat bahkan sebagian klinisi terdapat kecenderungan tanda dan gejala TB yang tidak spesifik pada anak sering dipakai dasar untuk memberikan pengobatan TB pada anak. Padahal banyak penyakit lainnya yang mempunyai gejala tersebut. Gagal tumbuh atau berat badan tidak naik, susah makan, demam berulang, sering batuk atau pembesaran kelenjar yang kecil di sekitar leher dan belakang kepala merupakan gejala yang tidak spesifik pada anak. Tetapi tampaknya dalam praktek sehari-hari gangguan ini sering langsung dicurigai sebagai gejala TB. Seharusnya gejala tersebut dapat disebabkan oleh beberapa penyakit lainnya. Gangguan-gangguan tersebut juga sering dialami oleh penderita alergi, asma, gangguan saluran cerna dan gangguan lainnya pada anak.

Tanda dan gejala TB yang tidak spesifik sangat mirip dengan penyakit lainnya. Gangguan gagal tumbuh dan gangguan saluran napas non spesifik sering mengalami overdiagnosis tuberkulosis. Penyakit alergi atau asma dan penderita gagal tumbuh yang disertai kesulitan makan paling sering dianggap penyakit TB karena gejalanya sama. Penelitian yang dilakukan penulis didapatkan fakta yang patut disimak. Sebanyak 34 (12%) anak mengalami overdiagnosis di anatara 226 anak dengan gangguan napas nonspesifik seperti alergi atau asma yang berobat jalan di Klinik Alergi Anak Rumah Sakit Bunda Jakarta.  Penelitian lain didapatkan hasil yang mengejutkan,  overdiagnosis ditemukan lebih besar lagi, yaitu  42 (22%) anak pada 210 anak dengan gangguan kesulitan makan disertai gagal tumbuh yang berobat jalan di Picky Eaters Clinic Jakarta. Overdiagnosis tersebut sering terjadi karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada atau kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru

Angka kejadian alergi di berbagai dunia dilaporkan meningkat drastis dalam beberapa tahun terakhir. World Health Organization (WHO) memperkirakan di dunia diperkirakan terdapat 50 juta manusia menderita asma. Tragisnya lebih dari 180.000 orang meninggal setiap tahunnya karena astma. BBC tahun 1999 melaporkan penderita alergi di Eropa ada kecenderungan meningkat pesat. Angka kejadian alergi meningkat tajam dalam 20 tahun terakhir. Setiap saat 30% orang berkembang menjadi alergi. Beberapa ahli alergi berpendapat bahwa 30%-50% secara genetik manusia mempunyai predisposisi untuk berkembang menjadi alergi. Dengan kata lain mempunyai antibody Imunoglobulin E terhadap lingkungan penyebab alergi. Sejauh ini banyak orang tidak mengetahui bahwa keluhan yang dia alami itu adalah gejala alergi. Di Amerika penderita alergi makanan sekitar 2 – 2,5% pada dewasa, pada anak sekitar 6 – 8%. Setiap tahunnya diperkirakan 100 hingga 175 orang meninggal karena alergi makanan. Penyebab kematian tersebut biasanya karena syok anafilaksis (reaksi alergi berat), tersering karena kacang tanah. Lebih 160 makanan dikaitkan dengan alergi makanan.

Penyakit alergi juga ternyata telah menghabiskan biaya sangat besar dan fantastis. Dalam setahun penderita rhinitis alergi seluruh dunia telah menghabiskan lebih dari 20 milyar dolar Amerika untuk pembelian obat-obatan, konsultasi dan mengganggu jam kerja. Hanya untuk biaya pembelian obat anti alergi saja diperkirakan di seluruh dunia menghabiskan lebih dari 8 milyar dolar Amerika setiap tahun. Demikian juga di Indonesia, penderita alergi sering menghabiskan biaya yang sangat banyak. Bayangkan berapa biaya yang dikeluarkan orang tua untuk biaya berobat anaknya yang menderita alergi. Bila minimal setiap bulan anak harus konsultasi ke dokter, membeli obat, dan banyak pemeriksaan laboratorium yang sangat mahal. Apalagi penderita alergi sering mengalami infeksi beru;ang dan sering kali mendapatkan ”overtreatment” antibiotika. Belum lagi bila anak harus melakukan tindakan operasi bedah.

PERMASALAHAN DIAGNOSIS TB

Gejala khas TB biasanya muncul tergantung dari bagian tubuh mana yang terserang, misalnya: TB kulit atau skrofuloderma, TB tulang dan sendi: tulang punggung (spondilitis): gibbus tulang panggul (koksitis): pincang, pembengkakan di pinggul, tulang lutut pincang atau bengkak, tulang kaki dan tangan, TB otak dan saraf : meningitis: dengan gejala iritabel, kaku kuduk, muntah-muntah dan kesadaran menurun. Gejala mata berupa konjungtifitis phlyctenularis, tuberkel koroid , kelainan ini hanya terlihat dengan alat funduskopi.

Pada pertemuan para ahli pulmonologi anak di Jakarta 26 Agustus 2000 telah dibuat suatu kesepakatan bersama yang berupa Konsensus Nasional TB anak. Diagnosis paling tepat adalah ditemukannya basil TB dari bahan yang diambil dari pasien misalnya sputum, bilasan lambung, biopsi dll. Tetapi pada anak hal ini sulit dan jarang didapat, sehingga sebagian besar diagnosis TB anak didasarkan gambaran klinis, kontak, gambaran radiologis, dan uji tuberculin.

Pemeriksaan BTA secara mikroskopis langsung pada anak biasanya dilakukan dari bilasan lambung karena dahak sulit didapat. Pemeriksaan BTA secara biakan (kultur) memerlukan waktu yang lama. Cara baru untuk mendeteksi kuman TB dengan PCR (Polymery Chain Reaction) atau Bactec masih belum banyak dipakai dalam klinis praktis. Demikian juga pemeriksaan darah serologis seperti ELISA, PAP, Mycodot dan lain-lain, masih memerlukan penelitian lebih lanjut untuk pemakaian dalam klinis praktis. Beberapa pemeriksaan tersebut spesifitas dan sensitifitasnya tidak lebih baik dari uji tuberkulin atau tes mantoux.

KESALAHAN DIAGNOSIS

Overdiagnosis sering terjadi karena karena tidak sesuai dengan panduan diagnosis yang ada atau kesalahan dalam menginterpretasikan gejala klinis, kontak dan pemeriksaan penunjang khususnya tes mantoux dan foto polos paru. Pada kasus di atas sebagian besar overdiagnosis TB ditegakkan hanya karena hasil foto rontgen. Tanpa pengamatan adanya kontak dan uji tuberkulin (test mantouxt) sudah terlalu cepat diberikan pengobatan TB. Sering terjadi hasil rontgen adalah infiltrat (flek) di paru sudah dianggap sebagai TB. Padahal gambaran ini bukan gambaran TB dan ternyata bisa didapatkan pada penyakit alergi, asma dan penyakit coeliac (gangguan saluran cerna dan berat badan kurus). Sedangkan gambaran rِntgen TB paru pada anak tidak khas. Gambaran TB yang ditemukan adalah pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal, milier,atelektasis, kolaps, konsolidasi, infiltrat dengan pembesaran kelenjar hilus atau paratrakeal, konsolidasi (lobus), cairan paru. kalsifikasi, bronkiektasis, kavitas dan destroyed lung (paru rusak). Sering kali terjadi interpretasi dokter radiologi hanya karena ditemukan infiltrat (flek) tanpa pembesaran kelenjar hilus atau kelenjar paratrakeal sudah dicurigai atau dianggap TB. Sedangkan dokter yang merawat penderita langsung memberikan pengobatan TB tanpa konfirmasi data lainnya.

Menentukan sumber penularan atau kontak TB adalah adanya kontak erat dan lama dengan penderita TB yang dipastikan dengan pemeriksaan dahak yang positif. Kesalahan yang sering terjadi bahwa kontak TB itu adalah saudara yang hanya pernah bertemu sesekali. Kesalahan lainnya kontak TB sering dianggap bahwa orang yang sering batuk atau kurus padahal belum tentu bila belum terbukti pemeriksaan dahak atau sputum positif. Anak yang mengalami gagal tumbuh dengan kesulitan makan ternyata sekitar 75% salah satu orang tuanya juga mengalami gangguan kenaikkan berat badan. Penderita alergi atau asma juga sebagian besar salah satu orang tuanya juga mengalami batuk lama yang terlalu cepat dianggap sebagai kontak TB.

Di dalam masyarakat  batuk lama atau Batuk Kronis Berulang (BKB) tampaknya lebih sering dikawatirkan sebagai TB. Padahal batuk adalah bukan merupakan keluhan utama penyakit TB pada anak. BKB adalah batuk yang berlangsung lebih dari 2 minggu atau berulang 3 kali atau lebih dalam 3 bulan. Diagnosis banding pertama pada BKB adalah asma atau alergi. Menurut pedoman Nasional Tuberkulosis Anak bila ditemui keluhan BKB harus disingkirkan dulu diagnosis banding lain seperti alergi atau asma sebelum diagnosis TBC dicari.

Kesalahan membaca tes mantouxt sering terjadi dalam overdiagnosis TB. Hasil tes Mantoux yang besar langsung dicurigai sebagai TB. Padahal tes Mantoux dikatakan positif bila indurasi harus lebih 10 mm bila bekas luka imunisasi BCG negatif (imunisasi tidak jadi). Bila bekas luka imunisasi BCG ada (imunisasi BCG jadi)  harus lebih 15 mm. Kesalahan lain yang sering terjadi adalah penilaian tes mantoux adalah lebar peninggian kemerahan kulit bukan kemerahan pada kulit.

TB adalah penyakit yang harus diwaspadai tetapi jangan terlalu kawatir berlebihan. Dalam menegakkan diagnosis harus dilakukan secara cermat dan lengkap melalui anamnesa kontak TB, tanda dan gejala TB, pemeriksaan foto polos paru dan uji tuberkulin. Sebaiknya tidak terlalu cepat memvonis diagnosis TB bila data yang didapat belum optimal. Bila meragukan sebaiknya dilakukan penanganan multidisiplin ilmu kesehatan anak seperti dokter pulmonologi anak, gastroenterologi anak, endokrinologi anak atau alergi anak. Karena bila sudah didiagnosis TB maka konsekuensi penggunaan obat-obatan dalam jangka waktu lama dan resiko efek samping yang ditimbulkan.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA BAYI :

* KULIT : sering timbul bintik kemerahan terutama di pipi, telinga dan daerah yang tertutup popok. Kerak di daerah rambut. Timbul bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Kotoran telinga berlebihan & berbau. Bekas suntikan BCG bengkak dan bernanah. Timbul bisul.
*  SALURAN CERNA : GASTROOESEPHAGEAL REFLUKS ATAU GER, Sering MUNTAH/gumoh, kembung,“cegukan”, buang angin keras dan sering, sering rewel gelisah (kolik) terutama malam hari, BAB > 3 kali perhari, BAB tidak tiap hari. Feses warna hijau,hitam dan berbau. Sering “ngeden & beresiko Hernia Umbilikalis (pusar), Scrotalis, inguinalis. Air liur berlebihan. Lidah/mulut sering timbul putih, bibir kering
*  SALURAN NAPAS : Napas grok-grok, kadang disertai batuk ringan. Sesak pada bayi baru lahir disertai kelenjar thimus membesar (TRDN/TTNB)
*  HIDUNG : Bersin, hidung berbunyi, kotoran hidung banyak, kepala sering miring ke salah satu sisi karena salah satu sisi hidung buntu, sehingga beresiko ”KEPALA PEYANG”.
*  MATA : Mata berair atau timbul kotoran mata (belekan) salah satu sisi.
*  KELENJAR : Pembesaran kelenjar di leher dan kepala belakang bawah.
* PEMBULUH DARAH : telapak tangan dan kaki seperti pucat, sering terba dingin
* GANGGUAN HORMONAL : keputihan/keluar darah dari vagina, timbul bintil merah bernanah, pembesaran payudara, rambut rontok.
* PERSARAFAN : Mudah kaget bila ada suara keras. Saat menangis : tangan, kaki dan bibir sering gemetar atau napas tertahan/berhenti sesaat (breath holding spells)
* PROBLEM MINUM ASI : minum berlebihan, berat berlebihan krn bayi sering menangis dianggap haus (haus palsu : sering menangis belum tentu karena haus atau bukan karena ASI kurang.). Sering menggigit puting sehingga luka. Minum ASI sering tersedak, karena hidung buntu & napas dengan mulut. Minum ASI lebih sebentar pada satu sisi,`karena satu sisi hidung buntu, jangka panjang bisa berakibat payudara besar sebelah.

MANIFESTASI KLINIS YANG SERING DIKAITKAN DENGAN ALERGI PADA ANAK
SALURAN NAPAS DAN HIDUNG : Batuk / pilek lama (>2 minggu), ASMA, bersin, hidung buntu, terutama malam dan pagi hari. MIMISAN, suara serak, SINUSITIS, sering menarik napas dalam.

KULIT : Kulit timbul BISUL, kemerahan, bercak putih dan bekas hitam seperti tergigit nyamuk. Warna putih pada kulit seperti ”panu”. Sering menggosok mata, hidung, telinga, sering menarik atau memegang alat kelamin karena gatal. Kotoran telinga berlebihan, sedikit berbau, sakit telinga bila ditekan (otitis eksterna).

SALURAN CERNA : Mudah MUNTAH bila menangis, berlari atau makan banyak. MUAL pagi hari. Sering Buang Air Besar (BAB) 3 kali/hari atau lebih, sulit BAB (obstipasi), kotoran bulat kecil hitam seperti kotoran kambing, keras, sering buang angin, berak di celana. Sering KEMBUNG, sering buang angin dan bau tajam. Sering NYERI PERUT.

GIGI DAN MULUT : Nyeri gigi, gigi berwarna kuning kecoklatan, gigi rusak, gusi mudah bengkak/berdarah. Bibir kering dan mudah berdarah, sering SARIAWAN, lidah putih & berpulau, mulut berbau, air liur berlebihan.

PEMBULUH DARAH Vaskulitis (pembuluh darah kecil pecah) : sering LEBAM KEBIRUAN pada tulang kering kaki atau pipi atas seperti bekas terbentur. Berdebar-debar, mudah pingsan, tekanan darah rendah.

OTOT DAN TULANG : nyeri kaki, kadang nyeri dada terutama saat malam hari

SALURAN KENCING : Sering minta kencing, BED WETTING (semalam ngompol 2-3 kali)

MATA : Mata gatal, timbul bintil di kelopak mata (hordeolum). Kulit hitam di area bawah kelopak mata. memakai kaca mata (silindris) sejak usia 6-12 tahun.

HORMONAL : rambut berlebihan di kaki atau tangan, keputihan, gangguan pertumbuhan tinggi badan.

Kepala,telapak kaki/tangan sering teraba hangat. Berkeringat berlebihan meski dingin (malam/ac). Keringat berbau.

FATIQUE : mudah lelah, sering minta gendong

GANGGUAN PERILAKU YANG SERING MENYERTAI PENDERITA ALERGI PADA ANAK
(ALERGI DAPAT MENYEBABKAN GANGGUAN OTAK/PERILAKU ATAU “BRAIN ALLERGY” – CEREBRAL ALLERGY)

*SUSUNAN SARAF PUSAT : sakit kepala, MIGRAIN, TICS (gerakan mata sering berkedip), , KEJANG NONSPESIFIK (kejang tanpa demam & EEG normal).
* GERAKAN MOTORIK BERLEBIHAN
Mata bayi sering melihat ke atas. Tangan dan kaki bergerak terus tidak bisa dibedong/diselimuti. Senang posisi berdiri bila digendong, sering minta turun atau sering menggerakkan kepala ke belakang, membentur benturkan kepala. Sering bergulung-gulung di kasur, menjatuhkan badan di kasur (“smackdown”}. ”Tomboy” pada anak perempuan : main bola, memanjat dll.
* GANGGUAN TIDUR MALAM : sulit tidur bolak-balik ujung ke ujung, tidur posisi “nungging”, berbicara,tertawa,berteriak, sering terbangun duduk saat tidur,,mimpi buruk, “beradu gigi”
* AGRESIF MENINGKAT sering memukul kepala sendiri, orang lain. Sering menggigit, menjilat, mencubit, menjambak (spt “gemes”)
* GANGGUAN KONSENTRASI: cepat bosan sesuatu aktifitas kecuali menonton televisi,main game, baca komik, belajar. Mengerjakan sesuatu tidak bisa lama, tidak teliti, sering kehilangan barang, tidak mau antri, pelupa, suka “bengong”, TAPI ANAK TAMPAK CERDAS
* EMOSI TINGGI (mudah marah, sering berteriak /mengamuk/tantrum), keras kepala, negatifisme.
* GANGGUAN KESEIMBANGAN KOORDINASI DAN MOTORIK : Terlambat bolak-balik, duduk, merangkak dan berjalan. Jalan terburu-buru, mudah terjatuh/ menabrak, duduk leter ”W”.
* GANGGUAN SENSORIS : sensitif terhadap suara (frekuensi tinggi) , cahaya (silau), raba (jalan jinjit, flat foot, mudah geli, mudah jijik).
* GANGGUAN ORAL MOTOR : TERLAMBAT BICARA, bicara terburu-buru, cadel, gagap. GANGGUAN MENELAN DAN MENGUNYAH, tidak bisa makan makanan berserat (daging sapi, sayur, nasi) Disertai keterlambatan pertumbuhan gigi.
* IMPULSIF : banyak bicara,tertawa berlebihan, sering memotong pembicaraan orang lain.
* Memperberat gejala AUTIS dan ADHD. Tetapi Alergi bukan penyebab Autism atau ADHD.

KOMPLIKASI

*KESULITAN MAKAN DAN BERAT BADAN SULIT NAIK terutama setelah usia 4 – 6 bulan
*DAYA TAHAN TUBUH MENURUN : MUDAH SAKIT PANAS, BATUK, PILEK (INFEKSI BERULANG) ; 1-2 kali setiap bulan). SEBAIKNYA TIDAK TERLALU MUDAH MINUM ANTIBIOTIKA. PENYEBAB TERSERING INFEKSI BERULANG ADALAH VIRUS YANG SEBENARNYA TIDAK PERLU ANTIBIOTIKA.
*Karena sering sakit berakibat Tonsilitis kronis (AMANDEL MEMBESAR) hindari operasi amandel yang tidak perlu.
*Waspadai dan hindari efek samping PEMAKAIAN OBAT TERLALU SERING.
*Mudah mengalami INFEKSI SALURAN KENCING. Kulit di sekitar kelamin sering kemerah.
*SERING TERJADI OVERDIAGNOSIS TBC (MINUM OBAT JANGKA PANJANG PADAHAL BELUM TENTU MENDERITA TBC / ”FLEK ”) KARENA GEJALA ALERGI MIRIP PENYAKIT TBC. BATUK LAMA BUKAN GEJALA TBC PADA ANAK BILA DIAGNOSIS TBC MERAGUKAN SEBAIKNYA ”SECOND OPINION” DENGAN DOKTER LAINNYA.

* MAKAN BERLEBIHAN KEGEMUKAN atau OBESITAS.

* INFEKSI JAMUR (HIPERSENSITIF CANDIDIASIS) di lidah, selangkangan, di leher, perut atau dada, KEPUTIHAN.

SERING DIANGGAP BIASA

* Tanda dan gejala yang dikaitkan dengan alergi pada bayi dan anak tersebut, seringkali memang dialami oleh banyak anak (sekitar 30% lebih). Karena banyaknya kasus tersebut maka gejala tersebut sering dianggap biasa, baik oleh kalangan masyarakat dan bahkan oleh sebagian kalangan klinisi atau dokter. Bila orangtua hanya mempunyai satu anak mungkin tidak menyadari, tetapi bila mempunyai anak 2 atau lebih maka akan dapat membedakan sebenarnya tanda dan gejala yang dianggap biasa tersebut sebenarnya tidak terjadi pada sebagian anak lainnya. Hanya saja ketika hal tersebut dianggap biasa karena selama ini tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa hal itu terjadi. Demikian pula terjadi kontroversi di kalangan medis, semua gejala tersebut saat dikonsultasikan ke dokter sering dianggap biasa, Mungkin secara tehnis hal ini sulit dijelaskan ke pasien karena selama ini gangguan-gangguan tersebut secara medis penyebabnya belum terungkap jelas. Gejala tersebut akan berkurang seiring dengan usia. Bila dikaitkan dengan manifestasi alergi, hal ini memang berkaitan dengan bertambahnya usia imaturitas atau ketidakmatangan saluran cerna akan semakin membaik sehingga gangguan-gangguan tersebut akan semakin berkurang.
* Tetapi ternyata sebagian besar yang diaggap biasa tersebut mempunyai aspek yang sangat luas. Bila tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan banyak komplikasi seperti anak sering sakit, gangguan perilaku dan gangguan lain yang cukup mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.
* Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak gangguan dapat disebabkan karena alergi makanan. Penulis juga banyak mengadakan penelitian dan pengamatan terhadap tanda dan gejala tersebut. Ternyata setelah dilakukan eliminasi makanan tertentu maka gejala tersebut dapat hilang atau berkurang. Atau, bila gejala tersebut timbul selalu terjadi menifestasi alergi lainnya. Misalnya, bila terjadi kolik seringkali disertai gangguan kulit, hidung buntu, napas grok-grok dan gangguan saluran cerna lainnya. Bila dilakukan anamnesa dengan cermat terjadi pola perubahan makanan baik diet ibu saat pemberian ASI atau makanan yang dikonsumsi langsung oleh bayi.
* Demikian juga dengan gangguan bentol merah seperti digigit nyamuk atau serangga, biasanya disertai gangguan tidur malam, gangguan saluarn cerna ringan, hidung buntu malam, perilaku emosi dan agresif meningkat dan sering ditemukan pola diet makanan alergi yang dikonsumsi.
* Sehingga orangtua harus bijak dalam menyikapinya. Memang tampaknya alergi makanan tidak berbahaya dan tidak terlalu mengkawatirkan. Tetapi bila dicermati lebih jauh jangka panjang yang bisa terjadi maka hal yang dianggap biasa tersebut SANGAT MENGGANGGU dan harus lebih diwaspadai.

PERSEPSI BERBEDA

*Gejala dan tanda alergi pada anak yang sering terjadi sering disalah persepsikan penyebabnya oleh masyarakat. Pendapat tersebut turun temurun terjadi didapatkan dari orang tua atau kakek nenek. Dalam jangka panjang gangguan tersebut ternyata dapat menjadi alat prediksi ke depan. Persepsi berbeda dalam masyarakat dalam menyikapi tanda dan gejala alergi:
*Dermatitis (merah di pipi) sering dianggap karena terkena (“terciprat”) air susu ibu. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu seringkali timbul jerawat di wajah atau di punggung atau dada atas..
*Perioral dermatitis (bintik merah di sekitar mulut) sering dianggap sehabis makan lupa membersihkan sisa makanan di sekitar mulut. Padahal sisa makanan tersebut tiap hari pasti ada tetapi keluhan ini hilang timbul. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu timbul semacam bintik kecil atau jerawat disekitar mulut.
*Hipersekresi bronkus (napas bunyi grok-grok) sering dianggap karena dokter atau bidan kurang bersih menyedot atau membersihkan cairan ketuban di mulut bayi saat lahir.
*Diapers Dermatitis (merah di daerah popok) sering dianggap karena pemakaian popok (diapers) padahal setiap hari memakai diapers tetapi hanya saat tertentu tiombul gejala. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering batuk kecil (berdehem) karena dahak berlebihan di tenggorokan.
*Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
*Sering nyeri perut sering dianggap pura-pura atau alasan menolak makanan hal ini terjadi karena keluhan tersebut sangat ringan dan timbul hanya sebentar. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering perut rasa tidak enak atau gejala maag.
*Sering muntah sering dianggap lambungnya sempit atau kecil, atau sering dianggap stress. Keluhan ini juga dialami salah satu orang tua, yaitu sering timbul mual, banyak gas di perut, sering sendawa gelegekan atau gejala maag.
*Bintil merah di kulit yang berubah menjadi kehitaman atau dermatitis di kulit sering dianggap karena digigit nyamuk atau darah manis, padahal semua anggota keluarga di dalam rumah yang sama tidak mengalaminya. Atau, sering dianggap karena debu atau air kran yang kurang bersih atau karena udara panas atau keringat.
*Tanda lebam kebiruan di tulang kering kaki atau kadang di daerah salah satu pipi sering dianggap karena terbentur atau terjatuh saat berlari atau naik sepeda. Memang kebetulan bahwa anak alergi biasanya anaknya sangat aktif dan tidak bisa diam. Hal ini biasanya juga dialami oleh salah satu orang tua, tetapi pada orangtua biasanya lokasinya di paha atau lengan atas sering diistilahkan dicubit setan.
*Mata atau telinga gatal, sering digosok-gosok sering dianggap karena mengantuk
*Tanda putih (seperti panu) di pipi, dada atau pungggung sering dianggap karena berenang, padahal banyak anak yang tidak pernah berenang juga mengalaminya.
*Sering sariawan atau luka di mulut sering dianggap karena panas dalam atau kurang vitamin C padahal anak setiap hari makan buah. Sariawan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.
*Sulit Buang air besar atau tidak buang air besar tiap hari sering dianggap karena karena kurang buah atau sayur padahal anak setiap hari makan buah dan sayur. Gangguan ini juga biasanya sering dialami salah satu orang tua.

PENCETUS ALERGI

*Timbulnya gejala alergi bukan saja dipengaruhi oleh penyebab alergi, tapi juga dipengaruhi oleh pencetus alergi. Beberapa hal yang menyulut atau mencetuskan timbulnya alergi disebut faktor pencetus. Faktor pencetus tersebut dapat berupa faktor fisik seperti dingin, panas atau hujan, kelelahan, aktifitas berlebihan tertawa, menangis, berlari,olahraga. Faktor psikis berupa kecemasan, sedih, stress atau ketakutan.
*Faktor hormonal juga memicu terjadinya alergi pada orang dewasa. Faktor hormonal itu berpengaruh sebagai pemicu alergi terjadi saat kehamilan dan menstruasi. Sehingga banyak ibu hamil mengeluh batuk lama, gatal-gatal dan asma terjadi terus menerus. Demikian juga saat mentruasi seringkali seorang wanita mengeluh sakit kepala, nyeri perut dan sebagainya.
*Faktor pencetus sebetulnya bukan penyebab serangan alergi, tetapi menyulut terjadinya serangan alergi. Bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi disertai dengan adanya pencetus maka keluhan atau gejala alergi yang timbul jadi lebih berat. Tetapi bila tidak mengkonsumsi makanan penyebab alergi meskipun terdapat pencetus, keluhan alergi tidak akan muncul. Pencetus alergi tidak akan berarti bila penyebab alergi makanan dikendalikan.
*Hal ini yang dapat menjelaskan kenapa suatu ketika meskipun dingin, kehujanan, kelelahan atau aktifitas berlebihan seorang penderita asma tidak kambuh. Karena saat itu penderita tersebut sementara terhindar dari penyebab alergi seperti makanan, debu dan sebagainya. Namun bila mengkonsumsi makanan penyebab alergi bila terkena dingin atau terkena pencetus lainnya keluhan alergi yang timbul lebih berat. Jadi pendapat tentang adanya alergi dingin mungkin keliru.

MEMASTIKAN DAN MENCARI PENYEBAB ALERGI

*UNTUK MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN BUKAN DENGAN TES ALERGI (TES KULIT ATAU TES DARAH) TETAPI DENGAN menggunakan Provokasi makanan secara buta (Double Blind Placebo Control Food Chalenge = DBPCFC).
* DBPCFC adalah gold standard atau baku emas untuk mencari penyebab secara pasti alergi makanan. Cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi terhadap cara itu. Rumah Sakit Bunda Children Allergy Clinic Jakarta melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Eliminasi Provokasi Makanan Terbuka Sederhana”.
* PEMERIKSAAN ALERGI YANG DIANJURKAN DAN TELAH TERBUKTI SECARA KLINIS ADALAH TES KULIT DAN PEMERIKSAAN IgE SPESIFIK, TETAPI PEMERIKSAAN INI HANYA MEMASTIKAN ADANYA BAKAT ALERGI ATAU ATOPI, BELUM MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI.
* Bahkan dalam waktu terakhir ini sering dipakai alat diagnosis yang masih sangat kontroversial atau ”unproven diagnosis”. Namun pemeriksaan ini masih banyak dipakai oleh praktisi kesehatan atau dokter. Di bidang kedokteran pemeriksaan tersebut belum terbukti secara klinis sebagai alat diagnosis karena sensitifitas dan spesifitasnya tidak terlalu baik. Beberapa pemeriksaan diagnosis yang kontroversial tersebut adalah Applied Kinesiology, VEGA Testing (Electrodermal Test), Bioresonansi, Hair Analysis Testing in Allergy, Auriculo-cardiac reflex, Provocation-Neutralisation Tests, Nampudripad’s Allergy Elimination Technique (NAET), Beware of anecdotal and unsubstantiated allergy tests.
* PEMERIKSAAN TES KULIT : SENSITIFITAS TINGGI TETAPI SPESIFITAS RENDAH. HANYA DAPAT MENDETEKSI ALERGI TIPE CEPAT, TETAPI TIDAK BISA MENDETEKSI ALERGI TIPE LAMBAT.  SEDANGKAN PEMERIKSAAN ALTERNATIF (BELUM TERBUKTI SECARA ILMIAH) SEPERTI TEST VEGA, BIORESONANSI DLL SENSITIFITAS DAN SPESIFITASNYA RENDAH SEHINGGA BELUM MEMASTIKAN PENYEBAB ALERGI MAKANAN
* SEHINGGA SEBAIKNYA JANGAN MENGHINDARI DAN MEMBOLEHKAN MAKANAN HANYA BERDASARKAN TES KULIT DAN TES DARAH

END POINT

* BILA ANDA ATAU ANAK ANDA MENGALAMI GEJALA ALERGI DAN  DI VONIS TBC ATAU FLEK PARU TETAPI TERDAPAT GEJALA SEPERTI DI ATAS SEBAIKNYA ANDA HARUS SEGERA LAKUKAN SECOND OPINION KE DOKTER  LAINNYA
* ALERGI MAKANAN MASIH MISTERIUS DAN BELUM BANYAK TERUNGKAP SEHINGGA DISEKITAR KITA BANYAK TIMBUL KONTROVERSI BAIK OLEH MASYARAKAT ATAU DIANTARA KLINISI (DOKTER) SEHINGGA KADANG MEMBINGUNGKAN ORANGTUA. HINGGA KINI BANYAK GANGGUAN TERSEBUT DI ATAS MASIH BELUM TERUNGKAP JELAS APA PENYEBABNYA. SEHINGGA BANYAK TIMBUL PENDAPAT BERBEDA UNTUK MENDUGA PENYEBABNYA. SERINGKALI JUGA DIANGGAP MANIFESTASI NORMAL. TERNYATA BEBERAPA GANGGUAN TERSEBUT HILANG TIMBUL SECARA BERSAMAAN BERKAITAN DENGAN KONSUMSI MAKANAN TERTENTU.
* SERING DIANGGAP BIASA KARENA SEBAGIAN BESAR BAYI BANYAK YANG MENGALAMI PADAHAL BILA TIDAK DIATASI SEJAK DINI DALAM JANGKA PANJANG SAAT USIA LEBIH BESAR GANGGUAN INI BERESIKO MENIMBULKAN BANYAK GANGGUAN.

Sumber:
http://childrenallergyclinic.wordpress.com/2009/01/06/tbc-flek-asma-atau-batuk-alergi/

Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Sarana Penularan Hepatitis

Hepatitis adalah proses peradangan pada hati yang disebabkan pada oleh berbagai macam infeksi seperti virus, bahan kimia, obat-obatan dan alkohol.

Hepatitis tidak dapat dianggap remeh sebab Hepatitis B dan C bisa berkembang menjadi sirosis (pengerasan hati), kanker hati dan komplikasi lainnya yang dapat menyebabkan kematian.

Jenis yang paling umum diderita adalah hepatitis A dan B. Ada beberapa jenis hepatitis mulai dari Hepatitis A, hepatitis B, C, D, E, F dan G. Masing-masing punya ciri namun rata-rata gejalanya sama. Umumnya bisa menjurus ke kondisi sirosis dan kanker hati jika tidak ditangani secara tuntas. Apalagi pada para carrier (pembawa virus tanpa menunjukkan gejala sakit). Namun peluang untuk sembuh bagi penderita penyakit ini masih terbuka, apalagi cangkok hatipun mulai dimungkinkan.

Biasanya gejala baru muncul beberapa minggu atau bulan setelah kemasukan virus. Pada hepatitis akut, gejalanya memang jelas. Tapi pada hepatitis kronis gejalanya sangat samar dan baru muncul jelas setelah organ hati dalam keadaan cukup parah.

Gejala orang terkena penyakit hepatitis mirip dengan gejala flu seperti badan terasa lemas dan letih, perut kembung, kurang nafsu makan karena mual, kadang kala sampai muntah. Ciri umum yang paling mudah dikenali adalah bola mata putihnya menjadi kekuningan dan air seninya kemerahan serta kulit bersemu kekuningan.

Penularannya bisa melalui bermacam-macam media atau cara seperti:

* Jarum suntik yang tidak sekali pakai
* Pisau cukur
* Jarum tato
* Jarum tusuk kuping
* Sikat gigi
* Jarum bor gigi
* Barang yang tercemar virus hepatitis B (VHB) sesudah digunakan pada para carrier positif atau penderita hepatitis B
* Akibat berhubungan seksual atau berciuman dengan penderita dan akibat transfusi darah yang terkontaminasi VHB.

Cara penularan yang terakhir ini memasukan para penderita kelainan darah seperti hemofilia (kadar protein faktor VIII atau zat pembeku dalam darah sangat rendah), thalasemia, leukimia atau melakukan dialisis ginjal ke dalam kelompok rawan atau berisiko tinggi terkena penyakit hepatitis B. Sebab mereka sering berurusan dengan transfusi darah.

Adapun kelompok orang yang rawan terinfeksi VHB yaitu mereka yang bekerja di laboratorium atau ruang darurat rumah sakit dan kamar mayat. VHB tidak menular melalui singgungan kulit, namun kalau ada luka terbuka di kulit lalu terkontaminasi darah yang mengandung VHB, penularan bisa terjadi.

Semoga dengan membaca artikel ini kita semua dapat lebih mewaspadai dan menjaga kesehatan agar kita terhindar dari hepatitis atau paling tidak meminimalisir resiko. Dan bagi penderita jangan berkecil hati sebab kesempatan untuk sembuh total masih terbuka.

Sumber:

Buku Intisari Kumpulan Artikel Kesehatan 3
http://www.wikimu.com/News/DisplayNews.aspx?id=15064

Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Penularan Hepatitis B Lebih Cepat Dari HIV Aids

JAKARTA — Penyakit Hepatitis B adalah masalah kesehatan global. Ada 2 miliar
orang di dunia yang diperkirakan terinfeksi Virus Hepatitis B (VHB). Menurut
data WHO, saat ini sudah lebih dari 400 juta manusia di seluruh dunia
menderita Hepatitis B kronis yang berisiko berkembang menjadi sirosis dan
kanker hati.
Sekurangnya ada 1 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit ini.
Data ini menempatkan Hepatitis B sebagai penyebab kematian nomor sembilan di
dunia. Sebanyak 75% dari pembawa virus hepatitis B berada di Asia Pasific.
“Hepaptitis B adalah penyakit infeksi pada hati (hepar/liver) yang
berpotensi fatal yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB) dan merupakan
salah satu penyakit yang sering ditemui dan menular. Penularannya sangat
cepat. VHB 100 kali lebih cepat dari HIV/AIDS,” jelas Ketua Divisi
Hepatologi FKUI-RSCM Ali Sulaiman dalam “Seminar Waspada Hepatitis B dalam
Rangka Menuju Indonesia Bebas Hepatitis B” di Jakarta, Sabtu (25/9).
Ia menjelaskan penyakit hepatitis terdiri dari hepatitis akut, yaitu
hepatitis dengan jangka pendek, biasanya kurang dari 6 bulan dan mampu
direspons dengan baik oleh sistem kekebalan tubuh. Hepatitis kronik adalah
Hepatitis B jangka panjang yang tidak dapat diatasi oleh sistem kekebalan
tubuh.
Di Asia Pasific, kebanyakan orang terinfeksi virus Hepatitis B pada saat
lahir atau pada saat masa kanak-kanak. Sebanyak sembilan dari sepuluh orang
yang terinfeksi tersebut akan bertahan sampai dewasa.
Di tempat lainnya, virus Hepatitis B biasanya menginfeksi orang dewasa
melalui kontak seksual atau melalui darah yang telah terinfeksi. Penularan
virus Hepatitis B adalah lewat transfusi atau tranplantasi, pasangan seksual
berganti-ganti, pekerja kesehatan, tahanan dan penghuni asrama, pengguna
jarum suntik narkoba, atau bayi dari ibu yang membawa virus hepatitis B.

KELELAHAN
Kebanyakan pasien Hepatitis B kronis tidak memiliki gejala khusus tapi
sebagai patokan, tanda-tanda terinfeksi virus Hepatitis B (VHB) jangka
pendek (Hepatitis B Akut) adalah kelelahan dan sindroma “flu like”, nafsu
makan turun, panas, pusing, mual, muntah, sakit perut, diare, kulit dan
mata, kuku dan seluruh tubuh berwarna kuning, kencing berwarna cokelat tua,
tinja berwarna pucat. Sedangkan terinfeksi hepatitis B jangka panjang
(Hepatitis B Kronis) adalah sama dengan yang akut disertai sakit otot dan
persendian, dan lemas. Tahapannya adalah fibrosis, yaitu penumpukan serta
akumulasi dari jaringan hati yang rusak.
Pada tahap sirosis, yaitu kerusakan lanjut dari jaringan hati yang ditandai
dengan permukaan hati yang berbenjol-benjol dan terbentuk jaringan ikat.
Pada akhirnya tahap kanker hati. Jangka waktu perjalanan penyakit adalah
dari 30-50 tahun.
“Pada tahap sirosis, aliran darah terbendung, sehingga kembali kesaluran
darah pencernaan atau ke rongga perut yang mengakibatkan pembuluh pecah,
muntah darah dan tinja hitam sehingga dapat mematikan,” jelas Ali Sulaiman
dalam konferensi pers seusai seminar.
Menurutnya, di Indonesia terutama daerah Indonesia timur adalah daerah yang
paling tinggi penyebaran penyakit Hepatitis B. Ia menyebut daerah Kupang
(25,61%), Mataram (20,61%), Palu (12,24) dan Manado. “Hal ini disebabkan
fasilitas kesehatan yang kurang di daerah Indonesia timur. Ada 5-10 orang
dari 100 orang Indonesia mengidap Hepatitis B,” jelas Penasehat Perhimpunan
Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini.
Indonesia menempati urutan ketiga yaitu 12 juta setelah Cina (120 juta),
India (48 juta) dalam jumlah penderita Hepatitis B terbesar di Asia Pasifik.
Seperti gunung es, data ini adalah hanya 30% dari pengidap keseluruhan.

PENCEGAHAN
Penularan Hepatitis B sangat mudah yaitu melalui cairan tubuh seseorang yang
terinfeksi seperti air mani, ludah dan cairan tubuh lainnya. Mereka yang
beresiko adalah bayi yang baru lahir, hubungan seksual tidak aman,
penggunaan pisau, jarum suntik, tindik, tato, sikat gigi, juga minum dari
gelas yang sama seccara bergantian.
Virus Hepatitis B dapat bertahan hingga beberapa minggu di luar tubuh
manusia. Pencegahannya adalah dengan menjalani hidup sehat dan menghindari
penularan serta melakukan vaksinasi/imunisasi secara lengkap yaitu 3 kali
suntik dalam rentang waktu berbeda.
Pengobatan Hepatitis B menggunakan interveron (perinjeksi) dan lamivudine
(oral). Saat ini digunakan Adefovir Dipivoxil (Hepsera) sebagai anti virus
oral baru yang menekan replikasi virus pada saat mengalami mutasi. Seperti
halnya Lamivudine (3TC-HBV), Hepsera memberikan manfaat pada perbaikan
jaringan hati.
“Tindakan terbaik adalah deteksi segera, vaksinasi segera dan obati segera.
Minum temulawak bukanlah mematikan virus, tapi hanya melemahkannya.” jelas
Prof Dr. Ali Sulaiman Sp.
Pengobatan dengan jalan mematikan VHB sangat tergantung pada waktu yang
tepat. Anti virus harus diberikan pada saat pengidap sedang kambuh. Pada
saat virus sedang aktif itulah antivirus diberikan secara terus menerus.
“Jangan terlambat atau jangan terlalu cepat. Jika tidak sedang kambuh, maka
obat tidak akan efektif dan justru akan menyebabkan virus bersembunyi.
Temulawak akan menyebabkan virus bersembunyi,” jelas Prof Dr. Ali Sulaiman
Sp.

Sumber :

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0409/27/nas06.html

http://keluargasehat.wordpress.com/2008/10/30/penularan-hepatitis-b-lebih-cepat-dari-hivaids/

Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Manfaat Kopi

Berikut beberapa point dan manfaat dari secangkir minuman yang bernama kopi, yang berhasil dirangkum dari berbagai sumber :
• Delapan puluh persen orang dewasa di dunia minum kopi sedikitnya sekali sehari. Wow, saya banyak temannya!
• Kafein yang terkandung didalam kopi adalah zat kimia yang berasal dari tanaman yang dapat menstimulasi otak dan sistem saraf. Kafein tergolong jenis alkaloid yang juga dikenal sebagai trimetilsantin. Selain pada kopi, kafein juga banyak ditemukan dalam minuman teh, cola, coklat, minuman berenergi (energy drink), cokelat, maupun obat-obatan.
• Kafein membantu Anda untuk bisa berpikir lebih cepat. Cobalah mengkonsumsi kopi atau teh 15 menit atau 30 menit sebelum Anda melakukan wawancara pekerjaan atau memberikan presentasi pada atasan. Hasilnya mungkin akan cukup lumayan, karena kafein yang terdapat pada kopi atau teh terbukti mampu memberikan ’sinyal’ pada otak untuk lebih cepat merespon dan dengan tangkas mengolah memori pada otak.

• Kafein mencegah gigi berlubang. Cobalah untuk meminum secangkir kopi hangat atau teh hangat sesaat setelah Anda mengkonsumsi cookies, cake coklat yang lezat, permen rasa buah atau sepotong roti manis. Joe Vinson, Ph.D., dari University of Scranton menjelaskan bahwa kafein yang terdapat dalam minuman ini ternyata sangat tangguh memberantas bakteri penyebab gigi berlubang.
• Kafein mengurangi derita sakit kepala. Penelitian menemukan kafein yang terdapat dalam kopi atau teh (dalam jumlah tertentu) sanggup menolong mengobati sakit kepala. Menurut Seimur Diamond, M.D., dari Chicago’s Diamond Headache Clinic. Penderita migrain dalam kategori ringan dapat disembuhkan dengan secangkir kopi pekat atau secangkir black tea. Jadi, sebelum mengkonsumsi obat cobalah dulu sembuhkan sakit kepala Anda dengan minuman berkafein.

• Kafein bisa melegakan napas penderita asma dengan cara melebarkan saluran bronkial yang menghubungkan kerongkongan dengan paru.

• Kafein dapat membuat badan tidak cepat lelah, bisa melakukan aktifitas fisik lebih lama, di perkirakan karena kafein membuat “bahan bakar” yang dipakai otot lebih lama.

• Kafein bisa meningkatkan rasa riang, membuat kita merasa lebih segar dan energik.

• Perempuan yang minum dua cangkir kopi atau lebih per hari dapat mengurangi risiko terkena pengeroposan tulang (osteoporosis).

• Kopi dapat meningkatkan penampilan mental dan memori karena kopi dapat merangsang banyak daerah dalam otak yang dapat mengatur tetap terjaga, rangsangan, mood dan konsentrasi. Penelitian di Universitas Arizona ditemukan bahwa orang dewasa yang minum kopi sebelum test memori menunjukkan perkembangan yang signifikan dibanding mereka yang minum kopi tanpa kafein.

• Kafein dapat menangkal radikal bebas dan menghancurkan molekul yang dapat merusak sel DNA.

• Kafein juga melindungi jantung dan kanker.

• Untuk mengurangi risiko pengidapan diabetes mulailah meminum kopi. Seseorang yang minum kopi lebih dari enam cangkir sehari berisiko rendah terserang diabetes dibanding dengan orang yang tidak minum kopi sama sekali. Demikian simpulan sebuah riset skala besar yang dilakukan pada 80 ribu orang selama 18 tahun di AS.

• Parkinson jarang ditemukan pada orang yang minum kopi secara teratur. Sebuah riset menyimpulkan penyakit ini justru ditemukan pada pria yang tidak minum kopi tiga kali lebih banyak daripada pria penikmat kopi.
• Minum kopi membuat sperma “berenang” lebih cepat dan mampu meningkatkan kesuburan pria. Hal ini diumumkan para ilmuwan Brasil dalam pertemuan “American Society for Reproductive Medicine” di San Antonio, dimana pembicaraan utama berkisar pada efek obat-obatan terhadap kesuburan kaum adam.

Sumber:

http://regional.kompasiana.com/2011/04/30/warung-kopi-24-jam-tempat-pembantaian-manusia/

Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Memaksimalkan Manfaat Air Mineral

Sebenernya mau tulis “Manfaat Air Putih” tapi entar di protes lagi, air putih itu kan susu.. Hehehe.. Ya biar gampangnya biar gak nulis Air Bening, jalan tengahnya pake Air Mineral aja.

Diantara teman-teman, pasti sudah pada tau dong berapa banyak air mineral yang harus kita minum setiap harinya dan bagaimana mengonsumsi yang baik. Tapi untuk memaksimalkan manfaat air mineral itu, ada waktu-waktu terbaik untuk minum agar penggunaannya bisa semaksimal mungkin.

Berikut waktu-waktu yang dimaksud tersebut :
1. Minum 2 gelas 30 menit sebelum waktu makan membantu pencernaan yang baik,
2. Minum 1 gelas setelah bangun tidur untuk menggantikan cairan tubuh yang hilang selagi tidur
3. Minum 1 gelas sebelum mandi membantu menurunkan tekanan darah
4. Minum 1 gelas sebelum tidur dapat mencegah stroke dan serangan jantung
5. Minumlah air mineral setiap abis minum jus, teh, kopi atau soda agar rasa di mulut kembali netral

Kalo kebutuhan air mineral dalam tubuh terpenuhi dengan baik dan meminumnya secara efektif maka mudah-muadhan kita akan terhindar dari sakit karena sistem kekebalan tubuh menjadi aktif karena area-area daerah bronkus (pipa saluran pernapasan), mukosa lambung dan usus sulit diserang virus atau bakteri.

Note : air mineral yang dimaksud disini, bukanlah air panas, air hangat, maupun air dingin. Tapi air mineral yang biasa-biasa saja.

Sumber:

http://www.lintasberita.com/Lifestyle/Kesehatan/maksimalkan-manfaat-air-mineral

Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Hepatitis B Bisa Bunuh Anda Diam-Diam

PENYAKIT hepatitis B adalah jenis penyakit yang tidak menunjukkan gejala berarti. Tak heran bila para penderitanya sama sekali tidak menyadari kalau dirinya telah menderita hepatitis B bahkan bila sudah dalam kondisi kronis sekalipun.

“Yang paling sering ditemukan memang tanpa gejala. Banyak sekali pasien yang kita obati tidak tahu kalau dirinya sudah sakit. Beruntung kalau ada pasien yang rajin atau sadar melakukan check-up setiap tahun. Dengan penanganan sejak dini, kemungkinannya untuk menjadi kronis tentu bisa dikurangi,” ungkap Ketua Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI)  dr. Unggul Budihusodo, Sp.PD-KGEH di Jakarta, Selasa (17/6).

Ditegaskan dr Unggul, memang sulit untuk menentukan apakah seseorang menderita hepatitis B hanya dari gejalanya. Tentu yang paling valid adalah berdasarkan hasil pemeriksaan darah di laboratorium.

Namun begitu, ada gejala-gejala yang mungkin hadir pada pendeita meskipun tidak selalu muncul. “Gejala-gejala yang mungkin ada seperti kelelahan, penurunan nafsu makan, demam, diare, perubahan warna urin dan feses, mata dan warna kulit yang tampak menguning,” papar dr Unggul yang sehari-hari berkantordi Divisi Hepatologi Departemen Penyakit Dalam FKUI/RSCM, Jakarta .

Ia menambahkan, seseorang akan dinyatakan positif mengalami hepatitis B oleh dokter bila telah menjalani serangkaian pemeriksaan secara klinis di laboratorium. Dokter biasanya akan mempertimbangkan sejumlah indikator seperti HBsAg positif (antigen yang menandakan adanya infeksi) atau  kenaikan enzim hati (SGOT dan SGPT).

“Dari hasil pemeriksaan nanti, dokter kemudian akan menentukan apakah infeksi ini perlu diobati atau tidak. Sebagai contoh, tidak semua yang memiliki HBsAg positif  akan diobati karena harus dilihat dulu dari kelompok mana dan harus dilihat faktor lain yang menyebabkannya,” jelas dr Unggul.

Sementara itu, seseorang akan dinyatakan mengidap hepatisis B kronik bila ia sudah menderita atau mengidap infeksi selama lebih dari enam bulan.  Diagnosa juga didasarkan pada adanya HBV DNA (indikasi replikasi virus aktif) dalam serum, kenaikan enzim hati, bukti histologis serta hasil USG yang menunjukkan proses peradangan hati.

Saat ini, pengobatan hepatiitis B tersedia dalam bentuk oral dan injeksi. Untuk pengobatan oral, pasien sepanjang hidupnya harus meminum obat yang mengganggu kemampuan virus untuk bereplikasi dan menginfeksi sel-sel hati lebih banyak lagi.  Di Indonesia, tersedia 4 jenis obat oral yang mendapat lisensi FDA, yakni Entecavir, Lamivudine, Adefovir dan Telbivudine.   Sedangkan melalui injeksi, pasien akan diberi  interferon atau senyawa sistesis yang menyerupai zat yang dihasilkan tubuh untuk mengatasi infeksi.