Skip to content
Mei 18, 2011 / andriyunantoro

Penularan Hepatitis B Lebih Cepat Dari HIV Aids

JAKARTA — Penyakit Hepatitis B adalah masalah kesehatan global. Ada 2 miliar
orang di dunia yang diperkirakan terinfeksi Virus Hepatitis B (VHB). Menurut
data WHO, saat ini sudah lebih dari 400 juta manusia di seluruh dunia
menderita Hepatitis B kronis yang berisiko berkembang menjadi sirosis dan
kanker hati.
Sekurangnya ada 1 juta orang meninggal setiap tahun akibat penyakit ini.
Data ini menempatkan Hepatitis B sebagai penyebab kematian nomor sembilan di
dunia. Sebanyak 75% dari pembawa virus hepatitis B berada di Asia Pasific.
“Hepaptitis B adalah penyakit infeksi pada hati (hepar/liver) yang
berpotensi fatal yang disebabkan oleh virus Hepatitis B (VHB) dan merupakan
salah satu penyakit yang sering ditemui dan menular. Penularannya sangat
cepat. VHB 100 kali lebih cepat dari HIV/AIDS,” jelas Ketua Divisi
Hepatologi FKUI-RSCM Ali Sulaiman dalam “Seminar Waspada Hepatitis B dalam
Rangka Menuju Indonesia Bebas Hepatitis B” di Jakarta, Sabtu (25/9).
Ia menjelaskan penyakit hepatitis terdiri dari hepatitis akut, yaitu
hepatitis dengan jangka pendek, biasanya kurang dari 6 bulan dan mampu
direspons dengan baik oleh sistem kekebalan tubuh. Hepatitis kronik adalah
Hepatitis B jangka panjang yang tidak dapat diatasi oleh sistem kekebalan
tubuh.
Di Asia Pasific, kebanyakan orang terinfeksi virus Hepatitis B pada saat
lahir atau pada saat masa kanak-kanak. Sebanyak sembilan dari sepuluh orang
yang terinfeksi tersebut akan bertahan sampai dewasa.
Di tempat lainnya, virus Hepatitis B biasanya menginfeksi orang dewasa
melalui kontak seksual atau melalui darah yang telah terinfeksi. Penularan
virus Hepatitis B adalah lewat transfusi atau tranplantasi, pasangan seksual
berganti-ganti, pekerja kesehatan, tahanan dan penghuni asrama, pengguna
jarum suntik narkoba, atau bayi dari ibu yang membawa virus hepatitis B.

KELELAHAN
Kebanyakan pasien Hepatitis B kronis tidak memiliki gejala khusus tapi
sebagai patokan, tanda-tanda terinfeksi virus Hepatitis B (VHB) jangka
pendek (Hepatitis B Akut) adalah kelelahan dan sindroma “flu like”, nafsu
makan turun, panas, pusing, mual, muntah, sakit perut, diare, kulit dan
mata, kuku dan seluruh tubuh berwarna kuning, kencing berwarna cokelat tua,
tinja berwarna pucat. Sedangkan terinfeksi hepatitis B jangka panjang
(Hepatitis B Kronis) adalah sama dengan yang akut disertai sakit otot dan
persendian, dan lemas. Tahapannya adalah fibrosis, yaitu penumpukan serta
akumulasi dari jaringan hati yang rusak.
Pada tahap sirosis, yaitu kerusakan lanjut dari jaringan hati yang ditandai
dengan permukaan hati yang berbenjol-benjol dan terbentuk jaringan ikat.
Pada akhirnya tahap kanker hati. Jangka waktu perjalanan penyakit adalah
dari 30-50 tahun.
“Pada tahap sirosis, aliran darah terbendung, sehingga kembali kesaluran
darah pencernaan atau ke rongga perut yang mengakibatkan pembuluh pecah,
muntah darah dan tinja hitam sehingga dapat mematikan,” jelas Ali Sulaiman
dalam konferensi pers seusai seminar.
Menurutnya, di Indonesia terutama daerah Indonesia timur adalah daerah yang
paling tinggi penyebaran penyakit Hepatitis B. Ia menyebut daerah Kupang
(25,61%), Mataram (20,61%), Palu (12,24) dan Manado. “Hal ini disebabkan
fasilitas kesehatan yang kurang di daerah Indonesia timur. Ada 5-10 orang
dari 100 orang Indonesia mengidap Hepatitis B,” jelas Penasehat Perhimpunan
Peneliti Hati Indonesia (PPHI) ini.
Indonesia menempati urutan ketiga yaitu 12 juta setelah Cina (120 juta),
India (48 juta) dalam jumlah penderita Hepatitis B terbesar di Asia Pasifik.
Seperti gunung es, data ini adalah hanya 30% dari pengidap keseluruhan.

PENCEGAHAN
Penularan Hepatitis B sangat mudah yaitu melalui cairan tubuh seseorang yang
terinfeksi seperti air mani, ludah dan cairan tubuh lainnya. Mereka yang
beresiko adalah bayi yang baru lahir, hubungan seksual tidak aman,
penggunaan pisau, jarum suntik, tindik, tato, sikat gigi, juga minum dari
gelas yang sama seccara bergantian.
Virus Hepatitis B dapat bertahan hingga beberapa minggu di luar tubuh
manusia. Pencegahannya adalah dengan menjalani hidup sehat dan menghindari
penularan serta melakukan vaksinasi/imunisasi secara lengkap yaitu 3 kali
suntik dalam rentang waktu berbeda.
Pengobatan Hepatitis B menggunakan interveron (perinjeksi) dan lamivudine
(oral). Saat ini digunakan Adefovir Dipivoxil (Hepsera) sebagai anti virus
oral baru yang menekan replikasi virus pada saat mengalami mutasi. Seperti
halnya Lamivudine (3TC-HBV), Hepsera memberikan manfaat pada perbaikan
jaringan hati.
“Tindakan terbaik adalah deteksi segera, vaksinasi segera dan obati segera.
Minum temulawak bukanlah mematikan virus, tapi hanya melemahkannya.” jelas
Prof Dr. Ali Sulaiman Sp.
Pengobatan dengan jalan mematikan VHB sangat tergantung pada waktu yang
tepat. Anti virus harus diberikan pada saat pengidap sedang kambuh. Pada
saat virus sedang aktif itulah antivirus diberikan secara terus menerus.
“Jangan terlambat atau jangan terlalu cepat. Jika tidak sedang kambuh, maka
obat tidak akan efektif dan justru akan menyebabkan virus bersembunyi.
Temulawak akan menyebabkan virus bersembunyi,” jelas Prof Dr. Ali Sulaiman
Sp.

Sumber :

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0409/27/nas06.html

http://keluargasehat.wordpress.com/2008/10/30/penularan-hepatitis-b-lebih-cepat-dari-hivaids/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: